PosRoha.com | Medan, Warga lingkungan 9 Kelurahan Besar Martubung Kecamatan Medan Labuhan beberkan sejumlah keburukan perilaku Kepala Lingkungan (Kepling) 9 Hendry. Dengan hal itu pula salah satu alasan warga minta Kepling diganti.
Selain surat yang ditujukan ke DPRD Medan untuk permintaan Kepling 9 diganti dengan alasan penjebolan tembok komplek PT SAN/KPBN dan dijadikan akses umum sehingga warga resah dan tidak nyaman karena tindak kejahatan. Juga tindakan Kepling yang dituding tidak mengayomi warganya dan berperilaku arogan.
Seperti pengakuan salah satu warga komplek DTI berinisial FR kepada wartawan, kemarin mengungkap perilaku Kepling 9 yang arogan dan pernah melakukan pungutan tidak resmi.
Selain itu FR juga menuding tindakan Kepling yang memutus orang tuanya sebagai Bilal Mayit. “Orang tua saya diberhentikan sebagai bilal mayit tanpa alasan dan pemberitahuan terlebih dahulu. Dan saat ini tidak mendapat bantuan lagi,” tutur FR.
Masih dalam pengakuan FR, tindakan Kepling juga pernah menyelewengkan bansos dan melakukan kutipan antrian saat pengambilan bansos.
Sebelumnya diberitakan, puluhan warga Kelurahan Besar Martubung Kecamatan Medan Labuhan minta Kepala Lingkungan (Kepling) IX diganti. Pasalnya, Kepling dimaksud tidak peduli terhadap kepentingan dan kenyamanan umum.
Dalam surat pengaduan warga ke DPRD Medan yang di tandatangani puluhan warga diketahui, warga lingkungan IX merasa kecewa dan kesal terhadap tindakan Kepling yang menjebol tembol komplek PT SAN/KPBN dan dijadikan akses umum sehingga rawan kenyamanan.
Kepling juga dituding tidak memiliki kepedulian terhadap keresahan warga dan bertindak sesuka hati menjebol tembok dan tidak pernah berkordinasi sama warga. Bahkan warga menuding Kepling tidak memahami tupoksi sebagai Kepling.
Menurut pengakuan warga, dalam waktu dekat ini tindakan Kepling akan dipertanyakan langsung ke Lurah dan Camat Medan Labuhan. Warga minta tindaklanjut pengaduan warga sebelumnya.
Ketika hal itu dikonfirmasi kepada Kepling 9 Hendry terkait tembok mengatakan bukan ada menjebol tembok. Namun pembuatan akses jalan sesuai kesepakan warga.
Maka dibuatlah pintu besi tingginya melewati tembok aslinya dan dirancang supaya tidak ada orang sembarangan akses keluar masuk. “Sedangkan pintu dibuka pada saat sholat saja dan tidak ada mobil dan sepeda motor yang lalu lalang disitu,” sebut Hendry seraya menambahkan pintu hanya difungsikan untuk akses warga menuju mesjid. (lamru)

More Stories
Kapal Bima Suci Persahabatan Angkatan Laut Dunia Tiba di Belawan
Walikota Medan : Penataan Trotoar Harus Mengalami Peningkatan Kualitas dan Jaga Estetika
Pedagang Keluhkan Harga Plastik Naik, Macan Asia Medan Desak Pemerintah Cari Solusi