PosRoha.com | Medan, Ketua Komisi I DPRD Medan Reza Pahlevi Lubis S Kom mengajak seluruh lapisan masyarakat peduli dan tetap mengamalkan Pancasila menjadi landasan hidup. Keanekaragaman agama, suku dan budaya hendaknya dijadikan alat pemersatu.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi I DPRD Medan Reza Pahlevi Lubis S Kom saat menggelar sosialisasi pembinaan ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) sesi ke II di daerah pemilihan (Dapil) I di Jl Sei Belutu I, lingkungan 12, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Medan Baru, Minggu (9/8/2026) sore.
“Ingat semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terkandung di Pancasila, kendati bebeda beda tetapi tetap satu jua,” ujar Reza Pahlevi Lubis.
Dikatakan Reza Pahlevi Lubis asal politisi Golkar itu dengan mengamalkan Pancasila dan memaknai Bhineka Tunggal Ika akan terciptanya kerukunun di tengah masyarakat. “Seluruh masyarakat terlebih generasi muda supaya peduli lingkungan mencegah kriminalitasi. Jaga keamanan dan ketertiban lingkungan masing masing,” pesannya.

Dalam kesempatan itu Reza menyampaikan, adapun alasan DPRD Medan melakukan pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang), karena saat ini banyak masyarakat apalagi generasi muda tidak tahu soal Pancasila dan apa landasan negara.
Untuk itu kata Reza, dengan melakukan pembinaan Ideologi Pancasila dan Wasbang diharapkan dapat membangkitkan kembali sejarah perjuangan dan landasan negara RI. “Begitu juga muda mudi saat ini kiranya menjadi generasi penerus bangsa yang paham Pancasila. Ayo generasi muda peduli Ideologi Pancasila dan Wasbang. Adek adek lah yang akan menggantikan kami kami ini ke depan,” pungkasnya.
Selanjutnya, Reza Pahlevi Lubis yang mengambil tema BhinekaTunggal Ika dalam paparannya menyebutkan,
Bhinneka Tunggal Ika berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Semboyan ini berasal
dari bahasa Jawa Kuno, diciptakan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma pada abad
ke-14 di masa Kerajaan Majapahit.

Oleh Moh. Yamin, diusulkan semboyan ini resmi diadopsi menjadi semboyan nasional
Indonesia. Berikut adalah rentetan sejarah lengkap semboyan pemersatu bangsa Indonesia, di ERA KERAJAAN MAJAPAHIT (ABAD KE-14)
Pencipta Sumber Kitab Konteks Awal : Diciptakan oleh Mpu Tantular, seorang pujangga besar dari Kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Kalimat ini tercantum dalam kitab Kakawin Sutasoma.
: Awalnya, semboyan ini digunakan untuk menunjukkan toleransi
beragama yang tinggi antara umat Hindu (Siwa) dan Buddha.
Mpu Tantular menegaskan bahwa meskipun ajaran agama Hindu dan
Buddha terlihat berbeda (beraneka ragam), inti dan tujuan hakikat
kebenarannya adalah satu.
Selanjutnya Masa Oergerakan Naaional, Pada awal kemerdekaan, para pendiri bangsa
(founding fathers) menyadari bahwa Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari
beragam suku, agama, ras, dan budaya. Mohammad Yamin adalah tokoh yang pertama kali mengusulkan frasa “Bhinneka
Tunggal Ika” kepada Presiden Soekarno agar dijadikan semboyan dan moto resmi bangsa.
Kemudian Pengesahan Resmi Kenegaraan 11 Februari 1950 17 Agustus 1950 17 Oktober 1951. Semboyan ini resmi disetujui penggunaannya dalam Sidang
Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) dan dicantumkan pada
lambang negara, Garuda Pancasila. Semboyan ini diperkenalkan secara luas kepada publik bersamaan dengan perkenalan lambang Garuda Pancasila. Penggunaan semboyan ini diperkuat secara hukum melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara Republik Indonesia.

Sedangkan landasan hukum di era modern kedudukan Bhinneka Tunggal Ika dilindungi
oleh konstitusi dan undang-undang:
- Pasal 36A UUD NRI 1945, Menegaskan bahwa lambang negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
- UU No. 24 Tahun 2009, Aturan detail mengenai tata cara penggunaan lambang negara dan
semboyan pemersatu bangsa. (lamru)

More Stories
Anggota DPRD Medan, Modesta Marpaung : “Jadikan Ideologi Pancasila Sebagai Landasan Hidup”
El Barino Shah Berikan Pemahaman Ideologi Pancasila kepada Kader PP di Medan Area
Jajaran OPD Pemko Medan Gotong Royong Bersihkan Parit dari Sedimentasi Tebal